Pendapatku, tentang Kabinet Indonesia Bersatu jilid 2

28 10 2009


Sosok SBY kembali mencuri perhatian masyarakat Indonesia, setelah sebelumnya ia berhasil meraup hampir 60% suara pada pemilu presiden pada 8 Juli 2009 yg lalu. Kali ini, ia kembali membuat fokus masyarakat di hampir seluruh pelosok negeri ini tertuju padanya. Ya…., masyrakat berdebar-debar, menanti para menteri yang ditunjuk untuk mengisi pos-pos kementerian yang berjumlah tiga puluh empat kursi menteri.

Akhirnya penantian terjawab sudah, pada tanggal 21 Oktober yang lalu, tepatnya pukul 22.30 WIB, Presiden mengumumkan para menteri yang telah dipilih untuk membantunya, menjalankan roda pemerintahan selama lima tahun ke depan.

Esok harinya, Kamis, 22 Oktober 2009. Pelantikan para menteri pun berlangsung di Istana Negara. Tiga puluh empat menteri baru diambil sumpahnya, bersedia mengabdi selama lima tahun ke depan untuk kepentingan bangsa dan negara.

Namun ada yang ganjil dalam proses penetapan menteri tersebut, posisi menteri kesehatan misalnya, yang dipercayakan pada DR. dr. Endang, lulusan Boston, Amerika Serikat itu. Bagaimana tidak? Penunjukan beliau menimbulkan polemik di masyarakat, karena dipilih tanpa mengikuti proses medical check up, yang merupakan proses wajib yang harus dilalui para calaon menteri. Yang menjadi tanda  tanya kemudian adalah: mengapa Dr. Nila yang merupakan calon kuat untuk menduduki pos kementrian, dianggap tidak lulus kejiwaan dan kesehatan. Ada apa ini? Apakah ada kepentingan asing dalam kabinet Indonesia Bersatu jilid 2 yang dikomandoi oleh Presiden SBY???

Pertanyaan tersebut pantas diwacanakan, bukan untuk memperkeruh keadaan. Akan tetapi untuk menjunjung tinggi demokrasi dan proses akuntabilitas, yang selalu didengung-dengungkan oleh SBY. Walaupun kita sadar, bahwa penetapan para menteri adalah hak preogratif Presiden. Namun hampir seluruh penduduk negei ini berharap, bahwa SBY memelih para pembantunya yang berkompeten dan memiliki program untuk mensejahterakan rakyat. Tidak dengan kebijakan-kebijakan yang membuat kehidupan masyarakat semakin susah. Apalagi merupakan “titipan asing” yang sudah pasti memiliki agenda politik untuk kepentingan negara-negara maju (red: Amerika dan kroninya).

Tidaklah berlebihan bila penulis menganalisa demikian, karena sosok Endang yang kini menjabat sebagai menteri kesehatan amat kontroversial dan tidak begitu dikenal dikalangan instansi kesehatan. Yang lebih parahnya, ia pernah dimutasikan oleh menteri keseahatan terdahulu, Dr. Siti fadilah supari, karena terbukti menyelundupkan virus H2N1 ke Hanoi, Vietnam. Untuk kemudian dijadikan vaksin oleh Amerika. Padahal sikapnya tersebut sangat bertentangan dengan kebuijakan Menteri kesehatan pada saat itu, yang melarang memberikan virus sampel virus kepada pihak asing, karena diduga disalahgunakan (dibuat menjadi senjata biologis atau dibuat menjadi vaksin yang kemudian dijual kembali dengan harga yang cukup tinggi, tanpa sama sekali menguntungkan negara yang mmiliki virus tersebut).

Oleh sebab itulah, Siti Fadilah Supari menentang kebijakan Amerika dan badan kesehatan dunia, WHO. Yang dinilai tidak transparan dan tidak adil.  Seyogianya negara-negara yang memiliki virus mengetahui akan dikemanakan virus tersebut, dan mendapat manfaat dari virus tersebut. Namun yang selama ini terjadi adalah negara-negara berkembang atau yang sering disebut dengan negara ketiga, dipaksa menyerahkan sampel virusnya kepada WHO, tanpa ada sama sekali kejelasan akan dikemanakan virus tersebut. Bukan tidak mungkin virus-virus tersebut dijadikan bahan untuk membuat senjata biologis. “Yah…!” begitulah nasibnegara-negara ketyiga selama ini. Ia wajib memberikan virus, kemudian bila telah menjadi vaksin dijual kembali dengan haraga yang sangat, sangat tinggi. Tanpa ada potongan haraga sama sekali bagi negara yang memiliki virus tersebut. Adilkan program kesehatan WHO selama ini?

Maka sangat wajar, bila kemudian Menteri kesehatan yang terdahulu  menentang keras  kebijakan WHO dan Amerika tersebut karena dinilai sangat tidak adil dan manusiawi. Ia juga yang mengusulkan kepada forum keseahatan dunia yang kala itu diselenggarakan di Jenewa, untuk mengevaluasi sistem distribusi virus yang selama ini dinilai tidak memberikan manfaat sama sekali bagi negara-negara pemiliknya. Dan usulannya pun disetujui oleh negara-negara lain. Ya…, Menteri kesehatan RI, Siti fadilah supari unjuk gigi. Dan pasti telah membuat Amerika dan kroninya berang bukan kepayang.

Kini, Siti fadilah supari tidak memimpin lagi departemen kesehatan, semoga program-program kesehatan yang merakyat, yang telah dirintis olehnya terus berjalan dan dapat disempurnkan. Dari segi pelayanan dan sebagainya. Karena rumah sakit dan puskesmas yang merupakan penyelanggara dan peyedia kesehatan, tidak harus melulu berefungsi sebagai komersil, tapi ia juga memiliki fungsi sosial.

Semoga analisa penulis dan kebanyakan dari masyarakat Indonesia lainnya salah, bahwa Dr. Endang adalah “titipan asing”, karena dinilai sangat dekat dengan lembaga penelitian Tentara angkatan laut Amerika (red–NAMRU). Semoga program-programnya ke depan pro rakyat dan bebas dari kepentingan asing. Semoga.





Bumiku berguncang lagi, tangisku pecah kembali.

2 10 2009

Bumiku berguncang lagi, tangisku pecah kembali.

Zahra masih asyik bergelut dan bercengkrama dengan pelajaran-pelajaran yang diterimanya, saat goncangan hebat menggetarkan dan meluluh lantakkan seluruh bangunan di mana ia dan 59 temannya mengikuti les bimbingan belajar. Tak ada aba-aba dari bumi tuk sekedar lari dan menyelamatkan diri. Semua terjadi dengan sangat tiba-tiba, dan tak mampu diantisipasi.

Di sore itu, gempa bumi mengguncang bumi ranah minang. Tepat pada tanggal 30 September 2009, bumiku berguncang dengan hebatnya. BMG (Badan Meteorologi dan Geofisika) mencatat daya guncangan hingga 7,6 SR (Skala Richter). Dengan pusat gempa terkuat di daerah Sumatra Barat. Namun getaran dan guncangan yang diakibatkan terasa hingga ke Bengkulu, Sumatra Utara, bahkan bumi Serambi Mekkah—Aceh.

Aku tertegun melihat di layar tv, sehari setelah bumi bergetar dengan dahsyatnya. Hampir seluruh stasiun TV ikut serta memonitor perkembangan terkini tentang musibah yang begitu memilukan hati. Satu persatu butir-butir air jatuh dari pelupuk mataku, sungguh sangat miris kusaksikan cerita-cerita duka mereka, saudara kita. Cerita orang tua yang kehilangan anaknya, anak yang harus kehilangan orang tuanya, tempat-tempat tinggal yang tak tersisa, korban reruntuhan yang masih terus bergelimpangan. Nyawa-nyawa yang meregang karena tak mampu bertahan di bawah tumpukan bangunan yang telah roboh, dan mereka yang dengan sisa-sisa kekuatannya terus berjuang untuk bertahan hidup dengan kondisi yang sangat kritis, karena himpitan bangunan.

Sementara bagi mereka–saudara kita yang selamat, harus tinggal di pengungsian, karena rumahnya yang telah rata dengan tanah, ada pula yang masih trauma untuk kembali ke rumahnya, karena takut gempa mengincar mereka sewaktu-sewaktu. Tidak banyak yang bisa dilakukan mereka di tempat pengungsian, Karena mungkin hati dan jiwanya ikut hancur akibat gempa yang meluluh lantakkan rumah-rumah mereka, dan harus terpisah dengan anggota keluarga lainnya.

Hidup harus terus berjalan, meski duka terus menyelimuti. Tak ada yang bisa memprediksi hidup ini satu menit ke depan. Karena sesungguhnya, Tuhan lah yang berkuasa dan berkehendak atasnya. Sakit. begitu menyakitkan musibah ini bagi saudara kita yang mengalami, tapi yakinlah wahai saudaraku: “Bahwa Allah tak akan memberi cobaan di luar batas kemampuan hambanya.” bukan karena Aku tak mengalami, maka aku mampu berkata demikian. Sungguh hatiku ikut berduka, air mataku ikut mengalir, dan do’aku terus menyertaimu, saudaraku.

******

“Bu…., ibu.Yah…., ayah…..!” Zahra haus. Zahra lapar.

“Bu…, Yah…, tolong Zahra, Zahra dah gak kuat.” Zahra kesakitan, Zahra gak bisa bergerak, tubuh Zahra terhimpit reruntuhan bangunan.

“Bu….., Yah…..,” suaranya pun berangsur surut, di balik reruntuhan bangunan yang menggunung.

Zahra, gadis SMU yang terjebak di balik runtuhan bangunan itu, hanyalah penggalan cerita yang tersisa dari gempa yang maha dahsyat, yang melanda bumi ranah minang, tempat di mana Buya Hamka dilahirkan dan dijemput ajal. Masih cukup banyak Zahra-zahra lainnya, yang terus berjuang dengan kekuatan yang tersisa untuk tetap hidup di bawah reruntuhan bangunan.
Tim SAR dan gabungan, dibantu oleh warga yang selamat, terus mengevakuasi korban-korban yang mungkin masih selamat, yang tertimbun di balik reruntuhan gedung.

“Ya Tuhan…!” begitu miris hatiku melihat pemandangan yang amat menyayat hati. Namun aku tetap yakin, bahwa pasti ada hikmah di balik cobaan ini, hikmah yang harus mampu kami gali, resapi dan maknai—bahwa sebenarnya ini adalah pelajaran yang terisrat dari gejala bumi yang semakin menua.
Tak ada yang mampu menghindar dari takdir dan keadaan yang Kau inginkan.

“Benarkah demikian?” atau sebenarnya kami mampu menghindarinya, karena pada dasarnya Engkau telah memberi kami akal untuk berfikir, dari apa-apa yang telah terjadi sebelumnya, sebagai pembelajaran dan media untuk memperbaiki diri.

“Entahlah..?!” tapi yang jelas bencana gempa bumi ini, membawa duka. Menuai derita, tidak hanya bagi mereka tapi kita semua.

Kamis, sepulang dari lawatannya ke Negeri Paman Sam, Presiden SBY segera melakukan rapat terbatas dengan para menterinya, terkait bencana gempa yang terjadi. Beliau menginstruksikan para Menteri untuk melakukan koordinasi dalam membantu dan meyalurkan bantuan kepada para korban, dan mengkoordinasikan untuk segera melakukan evakuasi terhadap mereka yang masih berada di balik reruntuhan bangunanan.

Gempa belum usai, setidaknya begitulah gejala yang masih tampak dan terekam baik di hampir seluruh stasiun tv, sehari setelah gempa melanda Sumatera Barat. kini giliran Jambi, Bengkulu, diguncang. Tercatat oleh BMG mencapai 7 SR. Namun kita patut bersyukur, karena selain guncangan yang tergolong kuat, di mana pusat episentrum gempa terjadi di kedalaman yang dangkal dari permukaan laut, ternyata efek yang ditimbulkan tidaklah begitu besar. “yach…!” kenyataan memang tidak selalu sejalan dengan teori.

******

Seorang Ibu masih menangis, tangisan yang begitu memilukan—bagi kita yang menyaksikan.

“Pak…,” tolong anak saya, anak saya masih di dalam. Ia pasti sedang menangis kesakitan. “Pak…., pak.., tolong anak saya. dia pasti masih di dalam gedung,” sang ibu tersedu menangis sambil menunjuk sebuah gedung pusat bimbingan belajar yang telah porak paranda.

“Tenang buk…, tenang!” semua akan baik-baik saja. kita akan berusaha mengelurkan anak ibu dengan selamat dari gedung itu. “Ibu harus tenang, berdo’alah agar semua bisa selamat.” begitulah seorang Tim SAR yang mencoba menenangkan sang ibu.

Ya…!! alangkah manusiawinya ia, karena manusia hanya bisa berusaha dan berdo’a—hasilnya merupakan takdir dan kehendak yang Maha kuasa.
begitu berpeluh cucuran keringat yang mengalir, membasahi hampir seluruh pakaian yang dikenakannya. Namun seakan tak ada waktu untuk merebahkan lelah atau sekedar duduk beristirahat—meski sejenak. Begitu tulus dan tanpa pamrih bapak-bapak Tim SAR mencoba dengan segala cara menyelamatkan raga-raga yang bernyawa dan yang telah meregang, terjebak di balik puing-puing bangunan yang menggunung.

“Satu…dua…tiga….,” angkat. Sang komando memberi aba-aba, untuk mengangkat bagian bangunan yang telah roboh dan tepat menimpa sesosok tubuh yang tak bergerak. Dengan sangat hati-hati Tim SAR dan gabungan mencoba mengevakuasi korban. Tak ada alat berat yang digunakan, karena dikhawatirkan semakin membahayakan korban-korban yang tertimpa bangunan.

“Ya….tahan!” ia melanjutkan komando. Lantas beberapa orang mencoba masuk di celah-celah bangunan yang sudah tak berwujud. “Tarik, pelan-pelan. dua orang laki-laki berhasil memopong sesosok tubuh keluar dari puing bangunan. Tubuh yang dibalut seragam sekolah, tubuh yang kini telah tebujur kaku. “Ya……sebuah pemandangan yang amat miris dan memilukan hati, bagi siapa saja. Terlebih bagi seorang Ibu–yang kini lemah tak berdaya menyaksikan anak gadisnya tak lagi bernyawa.”

Tak ada kata-kata, semua berduka. Yang terdengar hanya raungan dan tangis bersahut-sahutan. “Zahra….., gadis SMU itu kini telah pergi ke peraduan sebenarnya.” pergi tuk selamanya, meninggalkan kenangan bagi keluarga dan seluruh orang yang mengenalnya. Tubuh kaku itu mengumbar senyum. Begitu teduh. Begitu tenang. Tak ada rautan yang menyiratkan kepedihan, kesakitan. Seperti orang yang baru pulang dari medan perang dengan membawa kabar kemenangan. Zahra pergi menghadap Ilahi dengan sumringah dan ikhlas.

Zahra, tubuh kakunya menggenggam sesuatu. Menggenggam secarik kertas yang telah kusut dan layu. “Ibu…., Ayah…., Zahra dah gak kuat. Mungkin Zahra gak akan selamat, tapi percayalah bahwa semangat dan mimpi Zahra gak akan pernah padam.

“Bu…, Yah!” makasih buat semua kasih sayangnya, maafin Zahra kalau masih terlalu sering membuat kalian kecewa.

“Bu…Yah….!” kalian boleh menangis, tapi jangan tangisi kepergian Zahra. Ikhlaskan Zahra. Karena sesungguhnya Zahra bahagia. Zahra sedang berjihad dijalan-Nya.

“Bu…, Yah..!” do’akan Zahra. Semoga kita bertemu di surga.

Secarik kertas kusut yang membawa pesan, pesan yang ditulis dengan semraut, namun sarat akan makna. Pesan yang ditulis oleh gadis yang sedang berjuang untuk hidupnya, dan merasa tak kuat dan berdaya, karena sisa-sisa tenaga yang semakin surut. Zahra telah rela bila harus dipanggil oleh-Nya. Ia sedih bila harus berpisah dengan Ayah, Ibunya. Namun bahagia & ikhlas bila nyawanya tak selamatkan—karena sesungguhnya ia sedang menuntut ilmu, dan bukan kah menuntut ilmu itu adalah jihad?! Zahra, dan nasib Zahra-zahra lainnya begitu menyayat hati, menyemai derita, dan teramat sangat memilukan. Namun, Zahra telah rela dan ikhlas, karena ia pergi dengan syahid.





Indahnya Jatuh cinta

2 07 2009

Indahnya Jatuh Cinta

Ketika cinta melanda jiwa,

Tak ada yang lebih penting selain ia.

Di setiap pergantian detik

Ingin rasa selalu bersama

Menautkannya dalam cerita cinta

Hanya berdua saja.

Cinta memang gila. Begitulah kata pujangga lama, namun tak usang maknanya. Bagaimana tidak?! Cinta bisa membuat setiap insan melek di tengah malam karenanya, atau membuat laki-laki berdandan rapi hanya untuk menemui sang tambatan hati, meski biasanya ia jarang berbenah diri–begitu hebatnya fenomena cinta.

Mungkin hal itulah yang sedang kurasa, gejolak yang membara di jiwa. Gejolak atas nama cinta. Belum genap lima bulan aku menjalin hubungan dengannya, namun Aku sungguh sangat yakin akan dirinya. Ia yang membuat hidupku berwarna, menjadikan aku semakin kuat dan bersemangat dalam menempa setiap detik waktuku untuk merajut mimpi dan meraih asa. Aku tak lagi berduka atas luka lama yang menganga hatiku, mengikis semangat hidupku—juga karena ditinggal cinta—cinta yang telah pergi ke peraduan sebenarnya.

Cut Erly, ialah wanitaku kini. Ia mampu menundukkan hatiku, meruntuhkan egoku. Kini hanya ia gadis yang bersemayam di hatiku. Sudah sepantasnya aku mengucap syukur pada Ilahi Rabbi, karena kini kumenemukan tambatan hati yang meski seusia, namun ia tetap mau mendengar & mengikuti nasehatku. Ia begitu baik bila sekedar untuk mengisi kekosongan. Oleh sebab itu aku bersungguh-sungguh padanya. Biarpun rupanya tak cantik jelita tapi ia tetap gadis yang manis–setidaknya begitu bagiku. Aku dibuatnya mabuk kepayang oleh cinta, kasih sayang, perhatian dan pengertiannya. Sungguh belum pernah kudapat dalam hubungan-hubungan sebelumnya.

****

“Udah bangun say..?”tanyanya padaku lewat telpon.

“Bangun shalat subuh dulu,” ia menimpali. Hampir setiap hari ia tak pernah absent membangunkan dan mengingatkanku agar melaksanakan ibadah subuh di awal waktu.

Seketika aku bangkit dan menjawabnya dengan terbata-bata, karena masih kantuk. “ya ini baru bangun, oke, makasih cinta! ini mau langsung shalat,”jawabku kemudian. Begitulah ritual cinta kami berdua di ambang pagi, saat fajar hendak meninggalkan bumi. Begitulah kami saling mengingatkan satu sama lain atas nama cinta.

Lantas aku beranjak dari tempat tidur dan langsung menuju kamar mandi untuk berwudhu’. Setelah selesai shalat, aku pun memanjatkan do’a pada Ilahi Rabbi. Dalam do’a kuselip cerita cinta, asa dan mimpi kami berdua untuk membina dan menjaga hubungan ini hingga ke pernikahan. Sampai raga digerogoti usia, dan ajal menjemput salah satu di antara kami berdua. Terlalu dini mungkin aku berharap dan terlalu jauh pula harapan dan do’a itu. Mungkin! Namun begitulah cinta bekerja pada insan yang telah yakin akan pasangannya dan sedang dimabuk kepayang pula.

****

Semalam kubertemu kekasihku

Kutatapi wajahnya yang sedang melamun

Aku tak tahu apa yang tengah dipikirnya.

Kudapati senyum meronanya,

Kusuka dia tersipu.

Tahukah dia bahwa kuingin selalu bersamanya…?

Perasaanku haru biru saat membaca sms darinya, tepat pukul empat pagi aku menerimanya. Pesan yang dikirim sehari setelah kumengunjungi rumahnya. Memang saat itu aku tidak seperti biasa, lebih banyak diam, murung dan melamun. Tidak terselip canda tidak pecah tawa. Mungkin karena semakin banyak beban pikiranku. Persoalan-persoalan hidup yang mau tak mau harus tetap terpikirkan.

Seperti kebanyakan orang, aku juga membutuhkan teman untuk berbagi cerita saat sedang dihimpit masalah. Lantas kemudian aku pun menghubungi sahabatku, Rida. Kami saling bertegur sapa lewat telpon, dan kuceritakan masalah-masalah yang kini terus menggerogoti pikiranku, menyangkut kondisi ekonomiku saat ini, masalah kuliah, kejenuhanku menjalani rutinitas, masalah keluarga, hingga ke persoalan cinta. Kuceritakan padanya hingga ke akar-akar permasalahan—dengan harapan bebanku akan berkurang. Rida tak banyak menanggapi ocehanku, di seberang handphonenya aku hanya menemukan suasana hening seolah sedang mencerna semua masalahku dan meramu penawar untukku, sahabatnya. Di akhir perbincangan kami, ketika aku mau mengakhirinya, ia hanya berpesan agar aku kuat dan mampu menempa hidupku dalam keadaan apapun itu, agar aku tak lari dari kenyataan, agar aku tak menyerah dan menyalahkan cinta dengan alasan karena semakin menambah beban pikiran, agar aku mampu berpacu dengan waktu dan membubuhkan prestasi, agar orang-orang yang dekat dan menyayangiku bangga padaku. Karena aku kenal kamu, dan aku yakin kamu mampu untuk melakukan itu,”begitulah pesannya padaku. Tapi jangan pernah menjadikan itu semua sebagai beban, mengalirlah seperti air,” ia menimpali.

Tak dapat kupungkiri bahwa kata-katanya begitu membakar semangatku, selang dua menit aku mengakhiri percakapan dengannya, tiba-tiba ponselku berdering dengan nada sms masuk. Ternyata sms itu berasal dari sahabatku, Rida. Ia menggurat pesan yang sarat dengan makna:

“cinta bukan perkara mencari yang sempurna, tapi perkara mencari yang membuat diri kita sempurna”.

Sungguh kalimat itu mengetuk hatiku, membuka pikiranku untuk berpikir lebih jernih dan mampu memandang sesuatu dengan lebih objektif. Termasuk masalah cinta. Dan kini aku pun semakin yakin akan pilihanku, aku berjanji akan menjaganya selalu. Menjaga hatiku untuk selalu mencintai dan menyayangi Cut Erly Maulina Putri.





SAATNYA MENJADIKAN EKONOMI ISLAM SEBAGAI PILAR EKONOMI NASIONAL

2 07 2009

SAATNYA MENJADIKAN EKONOMI ISLAM SEBAGAI PILAR EKONOMI NASIONAL

Pendahuluan

Sejak terjadinya krisis Ekonomi di Indonesia, yaitu tepatnya pada tahun 1997, yang diindikasikan dengan melemahnya mata uang Indonesia (Rupiah) terhadap mata uang dunia, khususnya Dolar Amerika (U$D). Dan semakin ambruknya sistem dan kondisi perbankan nasional sehingga menyebabkan banyak Bank yang dilikuidasi (ditarik surat izin beroperasi/ditutup karena kondisi keuangan bank tersebut tidak sehat). Hanya Bank-bank yang beroperasi secara Syari’ahlah yang mampu bertahan di tengah badai ekonomi kala itu.

Perkembangan Ekonomi Dewasa ini

Pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak tumbuh seperti yang diharapkan, meskipun pada sektor tertentu menunjukkan kemajuan–di sektor keuangan misalnya, dengan meningkatnya atmosfer investasi pada bursa saham dan obligasi. Namun tidak berdampak pada perbaikan ekonomi pada sektor riil, padahal sektor inilah yang merupakan tonggak ekonomi rakyat dan berkorelasi langsung terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Pada prinsipnya, sistem ekonomi Indonesia yang lebih populer dengan istilah sistem ekonomi Pancasila, dalam penerapannya cenderung berkiblat pada sistem ekonomi Kapitalis (sistem ekonomi yang hanya mementingkan dan menguntungkan pemilik modal). Penerapan ekonomi kapitalis yang hanya memprioritaskan kepentingan pemilik modal semata dan cenderung mengabaikan nilai-nilai yang terkandung di masyarakat seperti nilai keadilan dan persaudaraan, tentunya sangat tidak sesuai apabila sistem ini terus menerus diterapkan di Indonesia. Karena selain tidak mampu menciptakan kesejahteraan bagi rakyat Indonesia. Sistem ini juga sangat memungkinkan bagi pelaku-pelaku ekonomi untuk melakukan spekulasi dengan tujuan mendapat keuntungan sepihak dan tentunya merugikan pihak lain, yang tak lain dan tak bukan adalah masyarakat kecil.

Untuk menjawab permasalahan tersebut, sudah saatnya kita sebagai umat Islam yang merupakan mayoritas dari Bangsa ini, untuk mengakaji ulang apakah sistem ekonomi kapitalis atau konvensional benar-benar merupakan solusi bagi perekonomian Indonesia. Atau memang diperlukan pencerahan yaitu dengan beralih dan menerapkan sistem ekonomi Islam dalam segala aspek perekonomian Indonesia.

Seyogianya Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) yang merupakan daerah yang telah memproklamirkan penerapan syariat Islam mempunyai andil besar dalam perkembangan ekonomi syari’ah/ekonomi islam dan dapat menjadi barometer ekonomi syari’ah di tanah air. Karena selain telah memiliki regulasi berupa qanun yang berfungsi sebagai payung hukum untuk merealisasikan syari’at Islam. NAD adalah daerah di Indonesia yang boleh dikatakan hampir seluruh masyarakatnya beragama Islam. Tentu hal itu merupakan faktor yang sangat berpotensi untuk menjadi centre of Islamic economy.

Ekonomi Dalam Perspektif Islam

Berbeda dengan ekonomi Kapitalis yang hanya mementingkan keuntungan-keuntungan materi belaka dan mengasingkan manusia dari agama dan kerohanian. Ekonomi dalam pespektif Islam merupakan kegiatan ekonomi yang prinsip utamanya bersumber pada Al-qur’an dan Hadist. Prinsip ekonomi yang diatur dalam Islam terhindar dari riba, maysir (unsur perjudian), gharar (transaksi yang mengandung unsur ketidakpastian). Adapun maksud dari prinsip tersebut adalah untuk keadilan dan kesejahteraan masyarakat.

Sistem Ekonomi Islam tidak hanya memprioritaskan profit (keuntungan) semata bagi pemilik modal, akan tetapi juga memberikan perhatian terhadap aspek persaudaraan dan keadilan, yaitu dengan cara mendistribusikan profit yang diperoleh kepada orang-orang yang memang membutuhkan baik berupa zakat atau infaq dengan tujuan mensejahterakan mereka.

Dalam penerapannya, sistem ekonomi Islam mengakui dan sangat menjunjung tinggi kepemilikan pribadi atas harta dan kekayaan seseorang. Namun, akan sangat lebih baik bila harta dan kekayaan tersebut diinvestasikan untuk kegiatan usaha yang bermanfaat, sehingga tidak menjadi penimbunan kekayaan yang pada akhirnya akan menyebabkan inflasi, dikarenakan uang tidak difungsikan dan didistribusikan sehingga mobilitas ekonomi tidak berjalan efektif. Sebagaimana Firman Allah SWT dalam surat At-Taubah ayat 34-35 yang artinya: Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahanam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu”.

Ayat di atas hanya salah satu dari penggalan ayat suci Al-qur’an yang mengatur tentang kehidupan berekonomi tanpa meniadakan kepentingan masyarakat. Bayangkan saja, apabila pengusaha dan pelaku ekonomi termasuk kita semua menginvestasikan harta yang kita miliki melalui lembaga Perbankan Syariah untuk didistribusikan bagi usaha-usaha mikro (kecil) dan menengah dengan tidak mengambil keuntungan yang terlalu tinggi dan tentu saja terbebas dari riba. Sehingga pada akhirnya akan menghapus kesenjangan sosial dan ekonomi yang begitu mencolok, di sisi lain juga dapat mengatasi pengangguran yang merupakan masalah klasik di negeri ini.

Penutup

Paradigma ekonomi yang mengagungkan materialistis semata harus segera dihapus dalam benak kita, khususnya masyarakat NAD, pada dasarnya hidup memang memerlukan materi, namun yang perlu diingat bagaimana kita menggunakan materi tersebut tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan dan tuntutan hidup semata. Tapi hendaknya materi (kekayaan) tersebut mampu memberi manfaat bagi orang lain/sekitarnya dan memiliki nilai ibadah bagi pemiliknya. Tentu hal itu merupakan sikap potensial untuk memperbaiki perekonomiaan Indonesia. Apabila hal tersebut telah terlaksana, maka Insya Allah akan terwujud impian rakyat Indonesia yaitu terwujudnya masyarakat yang adil dan makmur.





Pesta Demokrasi

3 06 2009

Indonesia kembali menggelar pesta, pesta yang menguras cukup dalam pundi anggaran. negeri ini akan melangsungkan pesta demokrasi untuk pemilihan orang nomor 1 & 2 di negeri Republik tercinta ini.

maka, apakah kita harus tetap apatis dan pesimis akan nasib Bangsa ini ke depan….?

Aku & mungkin juga kamu boleh kecewa akan amburadulnya birokrasi di negeri ini, belum lagi mental para pejabat-a yG korup.

tp apakah kt harus berdiam diri & pasrah tanpa berbuat apapun….?!

pemilu adalah moment bagi kita untuk memberi mandat pada para tokoh yang kita yakini mampu memperbaiki bangsa ini.

kawaN…., gunakanlah hak suaramu untuk menentukan perubahan Bangsa ini menuju yang lbh baik.

karena berbuat sesuatu untuk bumi pertiwi ini sangat lebih mulia, ketimbang kita berdiam diri & tak melakukan apa2, kemudian mengutuk pula.








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.