Indahnya Jatuh Cinta
Ketika cinta melanda jiwa,
Tak ada yang lebih penting selain ia.
Di setiap pergantian detik
Ingin rasa selalu bersama
Menautkannya dalam cerita cinta
Hanya berdua saja.
Cinta memang gila. Begitulah kata pujangga lama, namun tak usang maknanya. Bagaimana tidak?! Cinta bisa membuat setiap insan melek di tengah malam karenanya, atau membuat laki-laki berdandan rapi hanya untuk menemui sang tambatan hati, meski biasanya ia jarang berbenah diri–begitu hebatnya fenomena cinta.
Mungkin hal itulah yang sedang kurasa, gejolak yang membara di jiwa. Gejolak atas nama cinta. Belum genap lima bulan aku menjalin hubungan dengannya, namun Aku sungguh sangat yakin akan dirinya. Ia yang membuat hidupku berwarna, menjadikan aku semakin kuat dan bersemangat dalam menempa setiap detik waktuku untuk merajut mimpi dan meraih asa. Aku tak lagi berduka atas luka lama yang menganga hatiku, mengikis semangat hidupku—juga karena ditinggal cinta—cinta yang telah pergi ke peraduan sebenarnya.
Cut Erly, ialah wanitaku kini. Ia mampu menundukkan hatiku, meruntuhkan egoku. Kini hanya ia gadis yang bersemayam di hatiku. Sudah sepantasnya aku mengucap syukur pada Ilahi Rabbi, karena kini kumenemukan tambatan hati yang meski seusia, namun ia tetap mau mendengar & mengikuti nasehatku. Ia begitu baik bila sekedar untuk mengisi kekosongan. Oleh sebab itu aku bersungguh-sungguh padanya. Biarpun rupanya tak cantik jelita tapi ia tetap gadis yang manis–setidaknya begitu bagiku. Aku dibuatnya mabuk kepayang oleh cinta, kasih sayang, perhatian dan pengertiannya. Sungguh belum pernah kudapat dalam hubungan-hubungan sebelumnya.
****
“Udah bangun say..?”tanyanya padaku lewat telpon.
“Bangun shalat subuh dulu,” ia menimpali. Hampir setiap hari ia tak pernah absent membangunkan dan mengingatkanku agar melaksanakan ibadah subuh di awal waktu.
Seketika aku bangkit dan menjawabnya dengan terbata-bata, karena masih kantuk. “ya ini baru bangun, oke, makasih cinta! ini mau langsung shalat,”jawabku kemudian. Begitulah ritual cinta kami berdua di ambang pagi, saat fajar hendak meninggalkan bumi. Begitulah kami saling mengingatkan satu sama lain atas nama cinta.
Lantas aku beranjak dari tempat tidur dan langsung menuju kamar mandi untuk berwudhu’. Setelah selesai shalat, aku pun memanjatkan do’a pada Ilahi Rabbi. Dalam do’a kuselip cerita cinta, asa dan mimpi kami berdua untuk membina dan menjaga hubungan ini hingga ke pernikahan. Sampai raga digerogoti usia, dan ajal menjemput salah satu di antara kami berdua. Terlalu dini mungkin aku berharap dan terlalu jauh pula harapan dan do’a itu. Mungkin! Namun begitulah cinta bekerja pada insan yang telah yakin akan pasangannya dan sedang dimabuk kepayang pula.
****
Semalam kubertemu kekasihku
Kutatapi wajahnya yang sedang melamun
Aku tak tahu apa yang tengah dipikirnya.
Kudapati senyum meronanya,
Kusuka dia tersipu.
Tahukah dia bahwa kuingin selalu bersamanya…?
Perasaanku haru biru saat membaca sms darinya, tepat pukul empat pagi aku menerimanya. Pesan yang dikirim sehari setelah kumengunjungi rumahnya. Memang saat itu aku tidak seperti biasa, lebih banyak diam, murung dan melamun. Tidak terselip canda tidak pecah tawa. Mungkin karena semakin banyak beban pikiranku. Persoalan-persoalan hidup yang mau tak mau harus tetap terpikirkan.
Seperti kebanyakan orang, aku juga membutuhkan teman untuk berbagi cerita saat sedang dihimpit masalah. Lantas kemudian aku pun menghubungi sahabatku, Rida. Kami saling bertegur sapa lewat telpon, dan kuceritakan masalah-masalah yang kini terus menggerogoti pikiranku, menyangkut kondisi ekonomiku saat ini, masalah kuliah, kejenuhanku menjalani rutinitas, masalah keluarga, hingga ke persoalan cinta. Kuceritakan padanya hingga ke akar-akar permasalahan—dengan harapan bebanku akan berkurang. Rida tak banyak menanggapi ocehanku, di seberang handphonenya aku hanya menemukan suasana hening seolah sedang mencerna semua masalahku dan meramu penawar untukku, sahabatnya. Di akhir perbincangan kami, ketika aku mau mengakhirinya, ia hanya berpesan agar aku kuat dan mampu menempa hidupku dalam keadaan apapun itu, agar aku tak lari dari kenyataan, agar aku tak menyerah dan menyalahkan cinta dengan alasan karena semakin menambah beban pikiran, agar aku mampu berpacu dengan waktu dan membubuhkan prestasi, agar orang-orang yang dekat dan menyayangiku bangga padaku. Karena aku kenal kamu, dan aku yakin kamu mampu untuk melakukan itu,”begitulah pesannya padaku. Tapi jangan pernah menjadikan itu semua sebagai beban, mengalirlah seperti air,” ia menimpali.
Tak dapat kupungkiri bahwa kata-katanya begitu membakar semangatku, selang dua menit aku mengakhiri percakapan dengannya, tiba-tiba ponselku berdering dengan nada sms masuk. Ternyata sms itu berasal dari sahabatku, Rida. Ia menggurat pesan yang sarat dengan makna:
“cinta bukan perkara mencari yang sempurna, tapi perkara mencari yang membuat diri kita sempurna”.
Sungguh kalimat itu mengetuk hatiku, membuka pikiranku untuk berpikir lebih jernih dan mampu memandang sesuatu dengan lebih objektif. Termasuk masalah cinta. Dan kini aku pun semakin yakin akan pilihanku, aku berjanji akan menjaganya selalu. Menjaga hatiku untuk selalu mencintai dan menyayangi Cut Erly Maulina Putri.