Bumiku berguncang lagi, tangisku pecah kembali.

2 10 2009

Bumiku berguncang lagi, tangisku pecah kembali.

Zahra masih asyik bergelut dan bercengkrama dengan pelajaran-pelajaran yang diterimanya, saat goncangan hebat menggetarkan dan meluluh lantakkan seluruh bangunan di mana ia dan 59 temannya mengikuti les bimbingan belajar. Tak ada aba-aba dari bumi tuk sekedar lari dan menyelamatkan diri. Semua terjadi dengan sangat tiba-tiba, dan tak mampu diantisipasi.

Di sore itu, gempa bumi mengguncang bumi ranah minang. Tepat pada tanggal 30 September 2009, bumiku berguncang dengan hebatnya. BMG (Badan Meteorologi dan Geofisika) mencatat daya guncangan hingga 7,6 SR (Skala Richter). Dengan pusat gempa terkuat di daerah Sumatra Barat. Namun getaran dan guncangan yang diakibatkan terasa hingga ke Bengkulu, Sumatra Utara, bahkan bumi Serambi Mekkah—Aceh.

Aku tertegun melihat di layar tv, sehari setelah bumi bergetar dengan dahsyatnya. Hampir seluruh stasiun TV ikut serta memonitor perkembangan terkini tentang musibah yang begitu memilukan hati. Satu persatu butir-butir air jatuh dari pelupuk mataku, sungguh sangat miris kusaksikan cerita-cerita duka mereka, saudara kita. Cerita orang tua yang kehilangan anaknya, anak yang harus kehilangan orang tuanya, tempat-tempat tinggal yang tak tersisa, korban reruntuhan yang masih terus bergelimpangan. Nyawa-nyawa yang meregang karena tak mampu bertahan di bawah tumpukan bangunan yang telah roboh, dan mereka yang dengan sisa-sisa kekuatannya terus berjuang untuk bertahan hidup dengan kondisi yang sangat kritis, karena himpitan bangunan.

Sementara bagi mereka–saudara kita yang selamat, harus tinggal di pengungsian, karena rumahnya yang telah rata dengan tanah, ada pula yang masih trauma untuk kembali ke rumahnya, karena takut gempa mengincar mereka sewaktu-sewaktu. Tidak banyak yang bisa dilakukan mereka di tempat pengungsian, Karena mungkin hati dan jiwanya ikut hancur akibat gempa yang meluluh lantakkan rumah-rumah mereka, dan harus terpisah dengan anggota keluarga lainnya.

Hidup harus terus berjalan, meski duka terus menyelimuti. Tak ada yang bisa memprediksi hidup ini satu menit ke depan. Karena sesungguhnya, Tuhan lah yang berkuasa dan berkehendak atasnya. Sakit. begitu menyakitkan musibah ini bagi saudara kita yang mengalami, tapi yakinlah wahai saudaraku: “Bahwa Allah tak akan memberi cobaan di luar batas kemampuan hambanya.” bukan karena Aku tak mengalami, maka aku mampu berkata demikian. Sungguh hatiku ikut berduka, air mataku ikut mengalir, dan do’aku terus menyertaimu, saudaraku.

******

“Bu…., ibu.Yah…., ayah…..!” Zahra haus. Zahra lapar.

“Bu…, Yah…, tolong Zahra, Zahra dah gak kuat.” Zahra kesakitan, Zahra gak bisa bergerak, tubuh Zahra terhimpit reruntuhan bangunan.

“Bu….., Yah…..,” suaranya pun berangsur surut, di balik reruntuhan bangunan yang menggunung.

Zahra, gadis SMU yang terjebak di balik runtuhan bangunan itu, hanyalah penggalan cerita yang tersisa dari gempa yang maha dahsyat, yang melanda bumi ranah minang, tempat di mana Buya Hamka dilahirkan dan dijemput ajal. Masih cukup banyak Zahra-zahra lainnya, yang terus berjuang dengan kekuatan yang tersisa untuk tetap hidup di bawah reruntuhan bangunan.
Tim SAR dan gabungan, dibantu oleh warga yang selamat, terus mengevakuasi korban-korban yang mungkin masih selamat, yang tertimbun di balik reruntuhan gedung.

“Ya Tuhan…!” begitu miris hatiku melihat pemandangan yang amat menyayat hati. Namun aku tetap yakin, bahwa pasti ada hikmah di balik cobaan ini, hikmah yang harus mampu kami gali, resapi dan maknai—bahwa sebenarnya ini adalah pelajaran yang terisrat dari gejala bumi yang semakin menua.
Tak ada yang mampu menghindar dari takdir dan keadaan yang Kau inginkan.

“Benarkah demikian?” atau sebenarnya kami mampu menghindarinya, karena pada dasarnya Engkau telah memberi kami akal untuk berfikir, dari apa-apa yang telah terjadi sebelumnya, sebagai pembelajaran dan media untuk memperbaiki diri.

“Entahlah..?!” tapi yang jelas bencana gempa bumi ini, membawa duka. Menuai derita, tidak hanya bagi mereka tapi kita semua.

Kamis, sepulang dari lawatannya ke Negeri Paman Sam, Presiden SBY segera melakukan rapat terbatas dengan para menterinya, terkait bencana gempa yang terjadi. Beliau menginstruksikan para Menteri untuk melakukan koordinasi dalam membantu dan meyalurkan bantuan kepada para korban, dan mengkoordinasikan untuk segera melakukan evakuasi terhadap mereka yang masih berada di balik reruntuhan bangunanan.

Gempa belum usai, setidaknya begitulah gejala yang masih tampak dan terekam baik di hampir seluruh stasiun tv, sehari setelah gempa melanda Sumatera Barat. kini giliran Jambi, Bengkulu, diguncang. Tercatat oleh BMG mencapai 7 SR. Namun kita patut bersyukur, karena selain guncangan yang tergolong kuat, di mana pusat episentrum gempa terjadi di kedalaman yang dangkal dari permukaan laut, ternyata efek yang ditimbulkan tidaklah begitu besar. “yach…!” kenyataan memang tidak selalu sejalan dengan teori.

******

Seorang Ibu masih menangis, tangisan yang begitu memilukan—bagi kita yang menyaksikan.

“Pak…,” tolong anak saya, anak saya masih di dalam. Ia pasti sedang menangis kesakitan. “Pak…., pak.., tolong anak saya. dia pasti masih di dalam gedung,” sang ibu tersedu menangis sambil menunjuk sebuah gedung pusat bimbingan belajar yang telah porak paranda.

“Tenang buk…, tenang!” semua akan baik-baik saja. kita akan berusaha mengelurkan anak ibu dengan selamat dari gedung itu. “Ibu harus tenang, berdo’alah agar semua bisa selamat.” begitulah seorang Tim SAR yang mencoba menenangkan sang ibu.

Ya…!! alangkah manusiawinya ia, karena manusia hanya bisa berusaha dan berdo’a—hasilnya merupakan takdir dan kehendak yang Maha kuasa.
begitu berpeluh cucuran keringat yang mengalir, membasahi hampir seluruh pakaian yang dikenakannya. Namun seakan tak ada waktu untuk merebahkan lelah atau sekedar duduk beristirahat—meski sejenak. Begitu tulus dan tanpa pamrih bapak-bapak Tim SAR mencoba dengan segala cara menyelamatkan raga-raga yang bernyawa dan yang telah meregang, terjebak di balik puing-puing bangunan yang menggunung.

“Satu…dua…tiga….,” angkat. Sang komando memberi aba-aba, untuk mengangkat bagian bangunan yang telah roboh dan tepat menimpa sesosok tubuh yang tak bergerak. Dengan sangat hati-hati Tim SAR dan gabungan mencoba mengevakuasi korban. Tak ada alat berat yang digunakan, karena dikhawatirkan semakin membahayakan korban-korban yang tertimpa bangunan.

“Ya….tahan!” ia melanjutkan komando. Lantas beberapa orang mencoba masuk di celah-celah bangunan yang sudah tak berwujud. “Tarik, pelan-pelan. dua orang laki-laki berhasil memopong sesosok tubuh keluar dari puing bangunan. Tubuh yang dibalut seragam sekolah, tubuh yang kini telah tebujur kaku. “Ya……sebuah pemandangan yang amat miris dan memilukan hati, bagi siapa saja. Terlebih bagi seorang Ibu–yang kini lemah tak berdaya menyaksikan anak gadisnya tak lagi bernyawa.”

Tak ada kata-kata, semua berduka. Yang terdengar hanya raungan dan tangis bersahut-sahutan. “Zahra….., gadis SMU itu kini telah pergi ke peraduan sebenarnya.” pergi tuk selamanya, meninggalkan kenangan bagi keluarga dan seluruh orang yang mengenalnya. Tubuh kaku itu mengumbar senyum. Begitu teduh. Begitu tenang. Tak ada rautan yang menyiratkan kepedihan, kesakitan. Seperti orang yang baru pulang dari medan perang dengan membawa kabar kemenangan. Zahra pergi menghadap Ilahi dengan sumringah dan ikhlas.

Zahra, tubuh kakunya menggenggam sesuatu. Menggenggam secarik kertas yang telah kusut dan layu. “Ibu…., Ayah…., Zahra dah gak kuat. Mungkin Zahra gak akan selamat, tapi percayalah bahwa semangat dan mimpi Zahra gak akan pernah padam.

“Bu…, Yah!” makasih buat semua kasih sayangnya, maafin Zahra kalau masih terlalu sering membuat kalian kecewa.

“Bu…Yah….!” kalian boleh menangis, tapi jangan tangisi kepergian Zahra. Ikhlaskan Zahra. Karena sesungguhnya Zahra bahagia. Zahra sedang berjihad dijalan-Nya.

“Bu…, Yah..!” do’akan Zahra. Semoga kita bertemu di surga.

Secarik kertas kusut yang membawa pesan, pesan yang ditulis dengan semraut, namun sarat akan makna. Pesan yang ditulis oleh gadis yang sedang berjuang untuk hidupnya, dan merasa tak kuat dan berdaya, karena sisa-sisa tenaga yang semakin surut. Zahra telah rela bila harus dipanggil oleh-Nya. Ia sedih bila harus berpisah dengan Ayah, Ibunya. Namun bahagia & ikhlas bila nyawanya tak selamatkan—karena sesungguhnya ia sedang menuntut ilmu, dan bukan kah menuntut ilmu itu adalah jihad?! Zahra, dan nasib Zahra-zahra lainnya begitu menyayat hati, menyemai derita, dan teramat sangat memilukan. Namun, Zahra telah rela dan ikhlas, karena ia pergi dengan syahid.


Tindakan

Information

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.